Perkembangan kehidupan manusia
dari masa ke masa dapat diketahui melalui sejarah. Sejarah adalah kajian ilmu
sosial yang membahas berbagai aspek kehidupan manusia. Dalam membahas
kehidupan manusia, diperlukan konsep berpikir yang singkronis (bersangkutan
dengan peristiwa pada masa terbatas) dan diakronis (berkenaan dengan pendekatan
terhadap bahasa dengan melihat perkembangan sepanjang waktu). Kuntowijoyo, menjelaskan dua konsep
kerangka berpikir yang digunakan dalam mengkaji dan melakukan penelitian
ilmu-ilmu sosial utamanya sejarah melalui cara berpikir songkronis dan
diakronis.
1.
Diakronis
Galtungan berpendapat bahwa sejarah adalah ilmu
diakronis, berasal dari kata diachronich
(dalam bahasa Latin, artinya melalui/melampaui dan chronicus, artinya waktu). Diakronis, artinya memanjang dalam waktu
tetapi terbatas dalam ruang.
a.
Cara
berpikir kronologis diakronis dalam mempelajari sejarah
Kronologisnya adalah catatan kejadian-kejadian yang diurutkan sesuai dengan waktu terjadinya. Kronologis dalam peristiwa sejalah dapat membantu merekonstruksi kembali suatu peristiwa berdasarkan urutan waktu secara tepat. Selain itu, dapat juga membantu untuk membandingkan kejadian sejarah dalam waktu yang sama di tempat berbeda yang terkait peristiwanya.
Kronologisnya adalah catatan kejadian-kejadian yang diurutkan sesuai dengan waktu terjadinya. Kronologis dalam peristiwa sejalah dapat membantu merekonstruksi kembali suatu peristiwa berdasarkan urutan waktu secara tepat. Selain itu, dapat juga membantu untuk membandingkan kejadian sejarah dalam waktu yang sama di tempat berbeda yang terkait peristiwanya.
Cara berpikir kronologis diakronis
memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1)
Konsep
berpikir kronologis diakronis mempelajari kehidupan sosial secara memanjang
berdimensi waktu.
2)
Memandang
masyarakat sebagai suatu yang terus bergerak dan memiliki hubungan kuasalitas.
3)
Menguraikan
proses transformasi yang terus berlangsung dari waktu ke waktu dalam kehidupan
masyarakat yang berkesinambugan.
4)
Mengurangi
kehidupan masyarakat secara dinamis.
b.
Cara
berpikir diakronis dalam mempelajari sejarah
Sejarah itu diakronis, maksudnya memanjang dalam waktu. Sejarah berupaya melihat segala sesuatu dari sudut pandang rentang waktu. Pendekatan diakronis adalah salah satu yang menganalisis perubahan sesuatu dari waktu ke waktu, yang memungkinkan seseorang untuk menilai bagaimana bahwa sesuatu perubahan itu terjadi sepanjang masa. Sejarwan akan menggunakan pendekatan ini untuk menganalisis dampak perubahan variabel pada sesuatu, sehingga memungkinkan sejarawan untuk mengendalilkan mengapa keadaan tertentu lahir dari keadaan sebelumnya, atau mengapa keadaan tertentu berkembang/berkelanjutan.
Sejarah itu diakronis, maksudnya memanjang dalam waktu. Sejarah berupaya melihat segala sesuatu dari sudut pandang rentang waktu. Pendekatan diakronis adalah salah satu yang menganalisis perubahan sesuatu dari waktu ke waktu, yang memungkinkan seseorang untuk menilai bagaimana bahwa sesuatu perubahan itu terjadi sepanjang masa. Sejarwan akan menggunakan pendekatan ini untuk menganalisis dampak perubahan variabel pada sesuatu, sehingga memungkinkan sejarawan untuk mengendalilkan mengapa keadaan tertentu lahir dari keadaan sebelumnya, atau mengapa keadaan tertentu berkembang/berkelanjutan.
Contoh:
1)
Perkembangan
Serekat Islam di Solo, 1911-1920
2)
Terjadinya
Perang Diponegoro, 1925-1930.
3)
Revolusi
Fisik di Indonesia, 1945-1949.
4)
Gerakan
Zionisme, 1897-1948.
5)
Pertempuran
Ambarawa, 20 Oktober-15 Desember 1945.
6)
Pertempuran
Surabaya, 27 Oktober-20 November 1945.
2.
Sinkronis
Sinkronis
berasal dari bahasa Yunani, yaitu syn yang
berarti dengan, dan khronos yang
berarti waktu, masa. Sehingga dapat dipahami bahwa singronis, artinya meluas
dalam ruang tetapi terbatas dalam waktu. Ilmu sosial itu sinkronis (menekankan
struktur), artinya ilmu sosial meluas dalm ruang. Pendekatan sinkronis
menganalisis sesuatu pada saat tertentu. Pendekatan ini tidak berusaha untuk
membuat kesimpulan tentang perkemangan peristiwa yang berkontribusi pada
kondisi saat ini, tetapi hanya menganalisis suatu kondisi seperti itu.
Sebagai contoh, Proklamasi
kemerdekaan 17 Agustus dijelaskan dengan menguraikan berbagai aspek, seperti
sosial, ekonomi, politik, dan hubungan internasional. Oleh kerna itum cara
berpikir sinkronis sangat mementingkan struktur yang terdapat dalam setiap
peristiwa.
Penelitian arsip memungkinkan
orang untuk meneliti waktu yang panjang. Istilah memanjang dalam waktu meliputi
juga gejala sejarah yang ada di dalam waktu yang panjang.
Ada juga yang menyebutkan ilmu
sinkronis adalah ilmu yang meneliti gejala-gejala yang meluas dalam ruang
tetapi dalam waktu yang terbatas.
Adapun contoh penulisan sejarah
dengan topik-topik dari ilmu sosial yang disusun denga cara sinkronis lainnya,
antara lain:
a.
Kadiriah
di pesantren-pesantren Jawa.
b.
Tragedi
G30 S/PKI
c.
Pembangunan
Pada Era Orde Baru
d.
Ekonomi
di Indonesia terpuruk pada tahun 1998
e.
Kota-kota
metropolitan: Jakarta, Surabaya, dan Medan (metode survei dan interview hanya
memungkinkan topik yang kontemporer dengan jangka waktu yang pende, tetapi bisa
jadi ruangnya yang sanga luas).
Cara berpikir sinkronis memiliki ciri-ciri,
sebagai berikut.
a.
Mengamati
kehidupan sosial secara meluas bedimensi ruang.
b.
Memandang
masyarakat sebagai sebuah sistem yang terstruktur dan saling berkaitan antara
satu unit dengan unit yang lain.
c.
Menguraikan
kehidupan sosial secara deskriptif dengan menjelaskan bagian demi bagian.
d.
Menjelaskan
struktur dan fungsi dari masing-masing unit dalam kondisi statis.
Kedua
ilmu tersebut saling berhubungan (ilmu sejarah dan ilmu-ilmu sosial). Perlu
dipahami bahwa ada persilangan antara sejarah yang diakronis dan ilmu sosial
lain yang sinkronis hal ini berarti adakalanya sejarah menggunakan ilmu sosial
dan sebaiknya, ilmu sosial menggunakan sejarah, ilmu diakronis bercampur dengan
sinkronis.
Contoh:
Contoh:
1.
Peranan
militer dalam politik, 1945-1999 ( yang ditulis seorang ahli ilmu politik).
2.
Elite
agama dan politik 1945-2003 (yang ditulis ahli sosiologi).

Komentar
Posting Komentar